Sabtu, 18 Maret 2017

TUGAS SOFTSKILL PENGEMBANGAN ORGANISASI DENGAN DUKUNGAN ICT


Pengertian ICT/TIK

Teknologi Informasi dan Komunikasi / TIK (Information and Communication Technologies / ICT) adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Ada tiga kata yang harus kita pahami sebelumnya, yaitu:

·         Information (informasi) : hasil dari data yang diolah dan menerangkan sesuatu serta berguna bagi yang mengetahuinya.

·         Communications (komunikasi) : pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara 2 pihak atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

·         Technology (teknologi) : kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta yang berdasarkan proses teknis.

Dengan demikian ICT merupakan teknologi yang dapat diandalkan untuk memberikan layanan yang efektif dan efisien.

Pengembangan Organisasi

 Ada beberapa pengertian mengenai Pengambangan Organisasi, yaitu :

1.     PO merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian perencanaan perubahan yang sistematis yang dilakukan secara terus-menerus oleh suatu organisasi

2.    PO merupakan suatu pendekatan situasional atau kontingensi untuk meningkatkan efektifitas organisasi

3.    PO lebih menekankan pada system sebagai sasaran perubahan

4.    PO meliputi perubahan yang sengaja direncanakan

Pengembangan organisasi mengukur prestasi suatu organisasi dari segi efisiensi, efektifitas dan kesehatan :

1.     Efisien dapat diukur dengan perbandingan antara masukan dan keluaran, yang mengacu pada konsep Minimaks (Masukan minimum dan keluaran maksimum).

2.    Efektifitas adalah suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya artinya kesejahteraan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai

3.    Kesehatan organisasi adalah suatu fungsi dari sifat dan mutu hubungan antara para individu dan organisasi yaitu hubungan yang dinamis dan adaptabilitas

Tujuan Pengembangan Organisasi :

1.     Menciptakan keharmonisan hubungan kejra antara pimpinan dengan staf anggota organisasi

2.    Menciptakan kemampuan memecahkan persoalan organisasi secara lebih terbuka

3.    Menciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi

4.    Merupakan semangat kerja para anggota organisasi dan kemampuan mengendalikan diri

Sifat-sifat dasar PO :

1.     PO merupakan suatu strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, perubahan yang dimaksud harus mempunyai sasaran yang jelas dan didasarkan pada suatu diagnosis yang tepat mengenai permasalahan yang dihadapi oleh organisasi

2.    PO harus berupa kolaborasi antara berbagai pihak yang akan mengalami dampak perubahan yang akan terjadi, keterlibatan dan partisipasi para anggota organisasi harus mendapat perhatian

3.    Program PO menekankan cara-cara baru yang diperlukan guna meningkatkan kinerja seluruh anggota organisasi

4.    PO mengandung nilai-nilai humanistic dalam arti bahwa dalam meningkatkan efektifitas organisasi, potensi manusia harus menjadi bagian yang penting

5.    PO menggunakan pendekatan kesisteman yang berarti selalu memperhitungkan pentingnya inter relasi, interaksi dan inter dependensi

6.    PO menggunakan pendekatan ilmiah untuk mencapai efektivitas organisasi

Nilai-nilai dalam PO :

1.     Penghargaan akan orang lain

2.    Percaya dan mendukung orang lain, sedangkan individu sendiri harus mempunyai tanggung jawab

3.    Pengamanan kekuasaan (mengurangi tekanan pada wewenang)

4.    Konfrontasi (masalah yang tidak disembunyikan)

5.    Partisipasi (melibatkan orang-orang yang mempunyai potensi dalam proses pengembangan organisasi).

Proses Pengembangan Organisasi :

1.     Pengenalan masalah

2.    Diagnosis Organisasional

3.    Pengembangan strategi perubahan

4.    Intervensi

5.    Pengukuran dan Evaluasi

Sasaran Pengembangan Organisasi

Proses pengembangan organisasi diterapkan dengan sasaran :

1.     Hubungan yang lebih efektif antara departemen , divisi dan kelompok kelompok kerja dalam organisasi.

2.    Hubungan pribadi yang lebih efektif antara manajer dan karyawan pada semaua jenjang organisasi

3.    Terhapusnya hambatan hambatan komunikasi antara pribadi dan kelompok

4.    Berkembangnya iklim yang ditandai dengan saling percaya, dan keterbukaan yang dapat memotivasi serta menantang anggota organisasi untuk lebih berprestasi.

Pentingnya ICT Dalam Suatu Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa dalam suatu organisasi sangat berkaitan erat dengan ICT, dalam pembahasan kali ini kami mencari tahu bagaimana pentingnya ICT dalam suatu organisasi.

Kami mengamati suatu organisasi yang berada dalam lingkungan gereja yaitu organisasi Pemuda Remaja. Kami mencoba mencari tahu sebagaimana pentingnya ICT dalam organisasi ini.

Kami mencari tahu apa saja alat-alat atau media teknologi pembantu dan menjadi pendukung dalam organisasi ini, ada beberapa alat yang kami temui, tapi kami mengambil suatu alat atau media yang kami anggab penting dalam organisasi, yaitu alat atau media Komunisasi seperti telepon genggam. Bukannya kami menggab alat atau media teknologi lain tidak penting tapi kenapa kami memilih alat atau media komunikasi, karena menurut kami dalam organisasi komunikasi itu peting karena dengan komunikasi suatu organisasi akan berjalan baik.

Dalam organisasi ini alat atau media komunikasi sangat penting karena itu bertujuan agar selalu ada komunikasi yang baik antara pengurus dalam hal ini ketua organisasi dengan setiap anggota, ataupun komunikasi antara anggota satu dengan anggota yang lain. Bukan hanya itu juga tapi untuk saling memberi informasi baik soal tempat pelaksanaan ibadah, informasi pelaksanaan rapat dan informasi lainnya. Ada juga sebuah media komunikasi yaitu yang sedang diminati oleh hampir seluru orang didunia, yaitu Internet (facebook), karna melalui Internet (facebook) kita bisa saling memberikan informasi.

Jadi kesimpulannya Organisasi ini bisa saling memberi Informasi dengan ber-Komunikasi dengan mengunakan media Teknologi yang ada yaitu Telpon genggam dan Internet (Facebook).



Sumber :              

Kamis, 26 Januari 2017

TUGAS SOFTSKILL COBIT 5

http://nicolasruslim.com/blog/wp-content/uploads/2015/12/cobit-5-principles-e1449329526372.jpg
Pengertian COBIT 5
COBIT 5 merupakan framework yang komprehensif dan digunakan secara global untuk keperluan bisnis yang memungkinkan organisasi memanfaatkan informasi dan teknologi yang dimiliki dengan sebaik mungkin dengan menyediakan frameworkmanagement dan governance untuk IT di tingkat enterprise. COBIT 5 membantu organisasi menciptakan nilai yang optimal dari teknologi informasi dengan menjaga keselarasan antara perolehan manfaat, optimalisasi risiko dan optimalisasi sumberdaya yang dimiliki.
COBIT 5 terdiri atas processes reference model, praktik governance dan management serta sekumpulan tools yang menjadi enabler untuk mendukung governance dari sebuah organisasi. COBIT 5 menyediakan panduan dalam pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan penggunaan informasi dan teknologi untuk mendukung dan mencapai objektif dari organisasi. COBIT 5 memungkinkan IT untuk dikelola di perusahaan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kepentingan dari stakeholder internal maupun eksternal.
COBIT 5 didasari oleh 5 prinsip :
1. Memenuhi kebutuhan stakeholder
2. Meliputi seluruh bagian dari sebuah enterprise (end-to-end)
3. Implementasi sebuah framework yang terintegrasi.
4. Pendekatan yang menyeluruh
5. Pemisahan antara governance dan management
Kelima prinsip dari COBIT 5 tersebut memungkinkan organisasi untuk menerapkan sebuah framework terkait governance dan management yang efektif yang mampu mengoptimalkan investasi IT terhadap penggunaan IT. Framework ini dapat diterapkan pada organisasi kecil maupun organisasi besar; di berbagai bidang; baik profit, non profit maupun organisasi pelayanan publik.
5 Prinsip Yang Mendasari COBIT 5
Enabler adalah segala sesuatu yang dapat membantu pencapaian tujuan dari perusahaan. COBIT 5 mendefinisikan 7 kategori enabler :
  1. Prinsip, aturan dan kerangka kerja (principles, policies and framework)
  2. Proses-proses (processes)
  3. Struktur organisasi (organisational structures)
  4. Budaya, etika dan perilaku (culture, ethics and behaviour)
  5. Informasi (information)
  6. Layanan, infrastruktur dan aplikasi (Service, infrastructure and application)
  7. Orang, keahlian dan kompetensi (people, skills and competencies)
COBIT 5 didasari oleh 5 prinsip kunci dalam menjalankan governance dan management suatu IT enterprise. Kelima prinsip tersebut yaitu :
  • Prinsip 1 : Meeting stakeholder needs
    COBIT 5 terdiri atas proses-proses dan enabler untuk mendukung penciptaan nilai bisnis melalui penerapan IT. Sebuah perusahaan dapat menyesuaikan COBIT 5 dengan konteks perusahaan tersebut .
  • Prinsip 2 : Covering the enterprise end-to-end
    COBIT 5 mengintegrasikan pengelolaan IT perusahaan terhadap tatakelola perusahaan. Hal ini dimungkinkan karena
    • COBIT 5 mencakup seluruh fungsi dan proses yang ada di perusahaan.
      COBIT 5 tidak hanya fokus pada fungsi IT, tapi menjadi teknologi dan informasi tersebut sebagai aset yang berhubungan dengan aset-aset lain yang dikelola semua orang di dalam sebuah perusahaan.
    • COBIT 5 mempertimbangkan seluruh enabler dari governance dan management terkait IT dalam sudut pandang perusahaan dan end-to-end. Artinya COBIT 5 mempertimbangkan seluruh entitas di perusahaan sebagai bagian yang saling mempengaruhi.
  • Prinsip 3 : Applying a single, integrated framework
    COBIT 5 selaras dengan standar-standar terkait yang biasanya memberi panduan untuk sebagian dari aktivitas IT. COBIT 5 adalah framework yang membahas high level terkait governance dan management dari IT perusahaan. COBIT 5 menyediakan panduan high level dan panduan detailnya disediakan oleh standar-standar terkait lainnya.
  • Prinsip 4 : Enabling a holistic approach
    Governance dan management IT perusahaan yang efektif dan efisien membutuhkan pendekatan yang bersifat menyeluruh, yaitu mempertimbangkan komponen-komponen  yang saling berinteraksi. COBIT 5 mendefiniskan sekumpulan enabler untuk mendukung implementasi governance dan management sistem IT perusahaan secara komprehensif.
  • Prinsip 5 : Separating governance from management
    COBIT 5 memberikan pemisahan yang jelas antara management dan governance. Kedua hal ini meliputi aktivitas yang berbeda,membutuhkan struktur organisasi yang berbeda dan melayani tujuan yang berbeda.
    Menurut COBIT 5, governance memastikan kebutuhan, kondisi dan pilihan dari stakeholder dievaluasi untuk menentukan objektif dari perusahaan yang akan disepakati untuk dicapai. Governance memberikan arah bagi penentuan prioritas dan pengambilan keputusan. Selain itu, governance juga me-monitor kinerja dan kesesuaian terhadap objektif yang telah disepakati.
    Sementara, management meliputi aktivitas merencanakan, membangun, menjalankan dan me-monitor aktivitas yang diselaraskan dengan arahan yang ditetapkan oleh organisasi governance untuk mencapai objektif dari perusahaan.
COBIT 5 dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan :
1.                  Memahami ekspektasi stakeholder terhadap informasi dan teknologi terkait.
2.                  Ketergantungan pada pihak eksternal dan faktor internal
3.                  Terlalu banyak informasi
4.                  IT dan bisnis tidak dapat dipisahkan
5.                  Menyediakan panduan dalam melakukan inovasi dan penerapan teknologi-teknologi terbaru.
6.                  Fungsi dan Tanggungjawab yang jelas.
7.                  Memegang kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan pengguna.
8.                  Keterkaitan dengan standar dan kerangka kerja lain.
9.                  Menyesuaikan dengan hukum, regulasi, kesepakatan kontrak dan aturan internal.

10.           Menciptakan nilai dari perusahaan melalui penggunaan IT yang efektif dan inovatif.

Sumber :          http://nicolasruslim.com/blog/catatan-nico/pengenalan-cobit-5/
                        http://nicolasruslim.com/blog/it-governance/5-prinsip-yang-mendasari-cobit-5/
                        http://nicolasruslim.com/blog/it-governance/perlunya-implementasi-cobit-5-di-perusahaan/

TUGAS SOFTSKILL ITIL

Sejarah ITIL atau Information Technology Infrastructure Library 
(Bahasa Inggris, diterjemahkan Pustaka Infrastruktur Teknologi Informasi), adalah suatu rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan TI. Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya. ITIL memberikan deskripsi detail tentang beberapa praktik TI penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi TI.
Walaupun dikembangkan sejak dasawarsa 1980-an, penggunaan ITIL baru meluas pada pertengahan 1990-an dengan spesifikasi versi keduanya (ITIL v2) yang paling dikenal dengan dua set bukunya yang berhubungan dengan ITSM (IT Service Management), yaitu Service Delivery (Antar Layanan) dan Service Support (Dukungan Layanan).
Pengertian ITIL

• IT Infrastructure Library (ITIL) adalah sebuah kerangka best practice untuk memanage layanan-layanan TI yangterintegrasi dan berbasiskan proses
• ITIL merupakan sekumpulan buku yang berisi best practice untuk memanage penyampaian layanan TI

Tujuan utama dari penerapan ITIL

• Sebagai jembatan antara pihak manajemen dan divisi TI agar keduanya bisa berkomunikasi lebih efektif dan efisien;
• Bisa memanfaatkan infrastruktur TI yang ada dengan optimal;
• Bisa memanajemen infrastruktur TI dengan baik sehingga jika terjadi masalah dapat langsung memulihkan keadaan yang ada.
Siklus Layanan ITIL
Kelima bagian ITIL yang seperti tersebut di atas biasanya disebut juga sebagai bagian dari sebuah siklus. Dikenal pula dengan sebutan Sikuls Layanan ITIL. Secara singkat, masing-masing bagian dijelaskan sebagai berikut.
Service Strategy 
Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy.
Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tetapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
1.     Service Portfolio Management
2.     Financial Management
3.     Demand Management
Bagi organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM tersebut.
Service Design 
Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
1.     Service Catalog Management
2.     Service Level Management
3.     Supplier Management
4.     Capacity Management
5.     Availability Management
6.     IT Service Continuity Management
7.     Information Security Management
Service Transition 
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1.     Transition Planning and Support
2.     Change Management
3.     Service Asset & Configuration Management
4.     Release & Deployment Management
5.     Service Validation
6.     Evaluation
7.     Knowledge Management
Service Operation 
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1.     Event Management
2.     Incident Management
3.     Problem Management
4.     Request Fulfillment
5.     Access Management

Sumber :          https://id.wikipedia.org/wiki/ITIL

https://artxmarket.wordpress.com/2010/03/24/information-technology-infrastructure-library-itil/

Rabu, 21 Desember 2016

PEMROGRAMAN BERBASIS BLOK


Program berbasis blok mengembangkan sebuah interface yang mengizinkan program-program computer dibangun hanya dengan seret dan menjatuhkan kepingan blok-blok untuk gambaran pendirian programming rumit dan commands nya. Penelitian melihat program berbasis blok mengungkapkan tentang hal-hal modality: penggambaran menggunakan konsep programming saat ini mempengaruhi pemahaman conceptual para pelajar, latihan programming, dan persepsi pada programming dan ilmu komputer. Tiga designed blocks-based programming environments yaitu Greenfoot, GP, dan Pencil Code. 

Fungsi dari blok dalam pemrograman adalah untuk memungkinkan kelompok laporan untuk diperlakukan seolah-olah mereka satu pernyataan, dan untuk mempersempit ruang lingkup leksikal variabel, prosedur dan fungsi dideklarasikan di blok sehingga mereka tidak bertentangan dengan variabel yang memiliki nama yang sama digunakan di tempat lain dalam program untuk tujuan yang berbeda. Dalam bahasa pemrograman blok-terstruktur, nama-nama variabel dan benda-benda lain seperti prosedur yang dideklarasikan dalam blok luar yang terlihat dalam blok batin lainnya, kecuali mereka dibayangi oleh sebuah objek dengan nama yang sama.

Beberapa bahasa yang mendukung blok dengan deklarasi variabel tidak sepenuhnya mendukung semua deklarasi,misalnya banyak bahasa C yang diturunkan tidak mengizinkan definisi fungsi dalam blok (fungsi bersarang). Dan tidak seperti leluhurnya Algol, Pascal tidak mendukung penggunaan blok dengan deklarasi mereka sendiri dalam memulai dan akhir dari sebuah blok yang ada, hanya pernyataan majemuk memungkinkan urutan pernyataan yang akan dikelompokkan bersama dalam if, while, repeat dan statement kontrol lainnya.

Visual Block Progamming

Visual Block Programming adalah Membuat aplikasi tanpa kode satupun. Mengapa disebut visual block programming? karena kita akan melihat, menggunakan, menyusun dan drag-drops “block” yang merupakan simbol-simbol perintah dan fungsi  event handler tertentu dalam membuat aplikasi, dan secara sederhana kita bisa menyebutnya tanpa menuliskan kode program –coding less.

Dalam komputasi, sebuah bahasa pemrograman visual adalah bahasa pemrograman yang memungkinkan pengguna membuat program dengan memanipulasi unsur-unsur program grafis bukan dengan menentukan mereka secara tekstual. Sebuah VPL memungkinkan pemrograman dengan ekspresi visual, pengaturan tata ruang dari teks dan simbol grafis, digunakan baik sebagai elemen sintaks atau notasi sekunder. Sebagai contoh, banyak VPLS (dikenal sebagai dataflow atau pemrograman diagram) didasarkan pada gagasan "kotak dan panah", di mana kotak atau benda layar lainnya diperlakukan sebagai entitas, dihubungkan dengan panah, garis atau busur yang mewakili hubungan.


Bahasa Pemrograman C++

Contoh dari pemrograman berbasis blok adalah Bahasa Pemrograman C++

C++ adalah bahasa pemrograman komputer yang di buat oleh (Bjarne Stroustrup) merupakan perkembangan dari bahasa C dikembangkan di Bell Labs (Dennis Ritchie) pada awal tahun 1970-an, Bahasa itu diturunkan dari bahasa sebelumnya, yaitu BCL, Pada awalnya, bahasa tersebut dirancang sebagai bahasa pemrograman yang dijalankan pada sistem Unix, Pada perkembangannya, versi ANSI (American National Standart Institute) Bahasa pemrograman C menjadi versi dominan, Meskipun versi tersebut sekarang jarang dipakai dalam pengembangan sistem dan jaringan maupun untuk sistem embedded, Bjarne Stroustrup pada Bel labs pertama kali mengembangkan C++ pada awal 1980-an, Untuk mendukung fitur-fitur pada C++, dibangun efisiensi dan sistem support untuk pemrograman tingkat rendah (low level coding). Pada C++ ditambahkan konsep-konsep baru seperti class dengan sifat-sifatnya seperti inheritance dan overloading. Salah satu perbedaan yang paling mendasar dengan bahasa C adalah dukungan terhadap konsep pemrograman berorientasi objek (Object Oriented Programming).

C++ merupakan bahasa pemrograman yang memiliki sifat Pemrograman berorientasi objek, Untuk menyelesaikan masalah, C++ melakukan langkah pertama dengan menjelaskan class-class yang merupakan anak class yang dibuat sebelumnya sebagai abstraksi dari object-object fisik, Class tersebut berisi keadaan object, anggota-anggotanya dan kemampuan dari objectnya, Setelah beberapa Class dibuat kemudian masalah dipecahkan dengan Class.